Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga dengan akronim PKK sangat penting dan strategis keberadaanya. Selama ini PKK Jakarta Utara pada khususnya telah berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat DKI Jakarta dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kalau melihat 10 program PKK, maka sebagai sosiolog saya menganggap sangat baik karena PKK ingin turut serta memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, bangsa dan negara.

Untuk menyegarkarkan ingatan (reminder), saya mengemukakan kembali 10 program PKK. 1. Penghayatan Pancasila 2. Gotong royong 3. Pangan 4. Sandang 5. Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga 6. Pendidikan dan Ketrampilan 7. Kesehatan 8. Pengembangan kehidupan berkoperasi 9. Kelestarian Lingkungan Hidup 10 Perencanaan sehat

Kesepuluh program PKK itu sangat baik, akan tetapi dalam implementasinya tidak mudah karena terlalu banyak yang harus dilakukan dan tidak fokus. Oleh karena itu, sekalipun pengurus dan para aktivis PKK telah bekerja keras dan melakukan banyak hal, tetapi diakhir masa periode kepengurusan, sulit melihat hasilnya.

Harus Fokus

Dalam manajemen, terdapat akronim POAC yaitu planning, organizing, actuating, controlling. Dalam pelaksanaan program PKK di Jakarta Utara misalnya, mau tidak mau dan suka tidak suka harus ada perencanaan dengan membuat program yang sangat diperlukan anggota dan masyarakat di Jakarta Utara.

Selain itu, harus ada pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Semua itu harus ada pembaharuan, perbaikan, penyesuaian, peningkatan dan percepatan (akselerasi) dalam rangka partisipasi menyukseskan “Jakarta Baru” yang menjadi program Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Walaupun 10 program PKK diperlukan masyarakat Jakarta, tetapi harus ada skala prioritas supaya kelihatan hasilnya dan memberi dampak positif bagi peningkatan kehidupan keluarga, masyarakat DKI Jakarta, serta bangsa dan negara.

Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat dan di pemerintahan, tidak ada skala prioritas dan tidak fokus, semua mau dilaksanakan, sehingga perlu diprogramkan dan dibuatkan anggarannya. Oleh karena sudah diprogramkan dan dianggarkan, maka mau tidak mau harus di laksanakan. Keterbatasan waktu, pelaksana, tidak ada visi dan misi yang jelas, serta tujuan yang jelas dari pelaksanaan program, dan kurang ada pengawasan, akhirnya program dilaksanakan, sekedar melaksanakan program yang sudah dianggarkan.

Akibatnya, program yang dilaksanakan tidak memberi dampak apa-apa bagi keluarga dan masyarakat, apalagi untuk bangsa dan negara. Hanya sekedar kegiatan rutinitas yang menghabiskan anggaran, tidak memberi hasil bagi perbaikan dan peningkatan kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Maka ke depan, pengurus PKK harus membuat program kerja yang fokus, dan sangat diperlukan oleh masyarakat. Selain itu, bisa dikerjakan dan hasilnya diyakini dapat memberi manfaat langsung ataupun tidak langsung bagi peningkatan kehidupan keluarga, masyarakat DKI Jakarta, bangsa dan negara.

Beri Prioritas Pendidikan Keluarga

Kalau melihat tingkat permasalahan sosial di DKI Jakarta, maka program yang harus menjadi skala prioritas jika merujuk kepada 10 program PKK adalah pendidikan dan ketrampilan. Pendidikan adalah kunci untuk meraih perbaikan, peningkatan dan kemajuan keluarga, masyarakat DKI Jakarta, bangsa dan negara Indonesia. Pendidikan harus bermula dari keluarga. Pendidikan agama dan akhlak mulia harus ditanamkan dan diamalkan sejak dini dalam keluarga. Agama dan akhlak mulia, merupakan pilar utama dalam hidup ini, karena tantangan yang dihadapi makin lama makin berat dan kompleks.

Ibu-ibu PKK dan para suami, harus menjadi contoh dan teladan dalam pendidikan keluarga dan pengamalan ajaran agama dan akhlak mulia di dalam keluarga. Plato (lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM adalah seorang filsuf Yunani. Beliau pernah mengatakan bahwa rumah tangga adalah miniatur negara.

Logikanya, kalau setiap rumah tangga baik, berpendidikan baik, taat beragama, dan berakhlak mulia, tinggi kecintaan kepada Jakarta dan Indonesia, maka masyarakat DKI Jakarta, bangsa dan negara Indonesia pasti baik. Sebaliknya kalau keluarga tidak beres, banyak masalah, maka masyarakat, bangsa dan negara akan bermasalah pula.

Maka jika ingin membangun masyarakat Jakarta Utara, masyarakat DKI Jakarta, bangsa dan negara yang baik, maju dan sejahtera, mulailah membangun rumah tangga yang baik, karena rumah tangga miniatur negara.

Oleh karena itu, fokus program PKK harus pada pemberdayaan, pembinaan dan pengembangan keluarga yang penuh dengan taburan cinta kasih (mawaddah) dan saling sayang-menyayangi (warahmah). Silih asah silih asuh dan silih asih harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu harus dibiasakan hidup disiplin dalam keluarga. Kealpaan kita selama ini, ibu-ibu PKK terlalu sibuk melaksanakan 10 program PKK, tetapi lupa memberi skala prioritas pada pendidikan keluarga.

Penting Ketrampilan/Kepakaran

Untuk meraih kemajuan dan kesuksesan dalam hidup ini, tidak harus menjadi pegawai. Anak-anak dan keluarga kita serta masyarakat luas di DKI Jakarta serta seluruh masyarakat Indonesia dimanapun mereka berada, sangat perlu didorong supaya memiliki ketrampilan/kepakaran dalam suatu bidang yang diminati.

Segala kepakaran seperti ahli komputer, ahli akunting, ahli mesin, ahli AC, ahli musik, ahli HP, ahli mengaji (qari’), ahli dagang, ahli manajemen, dan lain sebagainya, diperlukan masyarakat dan yang bersangkutan bisa hidup layak.

Kepakaran semacam itu bisa diraih oleh siapapun, tidak perlu bergelar Doktor (Ph.D). Jadi, sebaiknya tidak menjadi manusia generis, tahu sedikit tapi tidak ada yang didalami dan menjadi pakar dalam bidang tertentu. Ibu-ibu PKK sangat penting memberi dorongan, pencerahan dan penyadaran kepada keluarga dan masyarakat supaya memiliki kepakaran. Dengan memiliki kepakaran, selanjutnya didorong menjadi bos yang menciptakan pekerjaan minimal untuk dirinya sendiri.

Dalam jangka menengah, mereka didorong untuk menjadi usahawan (entrepreneur). Kelemahan masyarakat kita terutama ibu-ibu, sangat bangga kalau anaknya sudah tamat dari universitas dan telah bekerja. Hampir tidak ada orang tua yang bangga kalau anaknya bekerja sendiri atau merintis usaha sendiri.

Akibatnya, orang lain yang kaya raya dan menguasai ekonomi karena menjadi usahawan, sementara mayoritas dari bangsa ini hanya bercita-cita dan bangga menjadi buruh atau karyawan. Ke depan, kita harus merubah cara pandang (mindset) masyarakat kita, dan memulai langkah baru dalam rangka mengisi “Jakarta Baru”, dengan spirit yang berkobar-kobar untuk membawa masyarakat supaya memiliki kepakaran dan bermimpi menjadi usahawan yang menciptakan lapangan pekerjaan.

Menyelamatkan Keluarga dan Suami.

Ibu-ibu PKK tidak boleh lupa tanggungjawabnya untuk menyelamatkan keluarga yaitu anak-anak dan suami. Pada umumnya ibu-ibu sangat sabar, tabah dan tekun menjaga suaminya, tetapi orientasinya supaya jangan kawain lagi.

Ke depan, ibu-ibu PKK selain membina keluarga dan masyarakat, sangat penting mengawal suami supaya jangan terjerembab ke dalam perbuatan korupsi. Gubernur Joko Widodo beberapa waktu lalu telah berkunjung ke KPK dan berkomitmen menjadikan DKI Jakarta sebagai provinsi percontohan yang tidak ada korupsi. Upaya ini wajib didukung oleh semua pihak termasuk pengurus dan aktivis PKK.

Partisipasi yang amat penting dilakukan oleh PKK ialah turut mencegah tidak terjadi korupsi yang bermula dari keluarga. Caranya ialah selalu mengingatkan suami supaya lurus, jujur dan tidak mengambil uang yang bukan haknya. Walaupun penghasilan tidak terlalu besar jumlahnya, tetapi mempunyai keberkahan. Itulah yang harus diamalkan. Kalau ada kesalahan di masa lalu supaya tobat-tidak lagi mengulangi perbuatan lama.

Kesimpulan

Partisipasi PKK penting terus ditingkatkan untuk membangun masyarakat DKI Jakarta supaya tinggi kecintaan terhadap Jakarta dan Indonesia, taat beragama, memiliki akhlak mulia, dan memiliki semangat untuk maju.
Untuk mewujudkan hal itu, maka PKK sebaiknya dalam program kerjanya memberi skala prioritas pada pemberdayaan dan pembinaan pada keluarga dengan fokus pada tiga hal.

Pertama, pembinaan kepada keluarga sendiri, supaya taat beragama, berakhlak mulia, tinggi rasa cinta kepada Jakarta dan Indonesia, berpendidikan, disiplin dan memiliki semangat untuk maju.

Kedua, pencerahan dan penyadaran supaya setiap keluarga di dalam masyarakat terpanggil untuk memiliki ketrampilan/kepakaran misalnya ibu-ibu menjadi ahli memasak, ahli merias pengantin, ahli buat kue, dan anak-anak muda menjadi ahli komputer, ahli HP, ahli AC, ahli akunting, ahli mesin mobil, ahli mengaji (qari’) dan lain sebagainya. Singkat kata setiap warga DKI Jakarta, sebaiknya memiliki kepakaran.

Ketiga, mendorong dan terus mengingatkan suami dan keluarga untuk hidup jujur dan lurus, tidak korupsi karena merusak keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mencegah suami dan keluarga terjerembab ke dalam tindakan korupsi, maka hidup sederhana, banyak bersyukur, tidak serakah, dan banyak beribadah kepada Allah merupakan cara mencegah dan melawan korupsi.

Dengan melakukan tiga hal tersebut yang dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan masing-masing, maka berarti telah berpartisipasi membangun Jakarta Baru dan Indonesia yang maju, adil dan makmur.

* Musni Umar adalah Sociologist and Researcher, Direktur Institute for Social Empowerment and Democracy (INSED).
* Makalah ini dipersiapkan untuk dipresentasikan dalam Program Kegiatan Pemberdayaan PKK Jakarta Utara, 4 Desember 2012, di Hotel Gran Cempaka, Jakarta.
sumber berita : http://musniumar.wordpress.com

kategori: 

Musni Umar: Partisipasi PKK dalam Membangun JAKARTA BARU